Fase Pratanam

1. Karakteristik agroekosistem

Pada waktu pratanam, lahan bekas tanaman padi relatif bersih dari gulma. Pada lahan bekas tanaman jagung, seringkali masih terdapat sumber serangan hama yaitu penggerek batang jagung, lundi, dan sumber inokulum penyakit yaitu bulai dan cendawan lainnya, sedangkan pada lahan tegalan terdapat semak-semak atau sisa tanaman lain seperti padi gogo atau palawija lainnya.

2. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem

Pada waktu pratanam dilakukan persiapan untuk menentukan pola tanam (penentuan varietas, pergiliran tanaman, waktu tanam dan tanam serentak), penyiapan lahan yang baik, menghilangkan sumber serangan dan menciptakan keadaan untuk menjamin rendahnya populasi OPT pada awal pertumbuhan tanaman, sehingga dapat menciptakan keseimbangan agroekosistem yang lebih baik selama pertumbuhan tanaman.

Di daerah serangan penggerek tongkol dilakukan penanaman tanaman perangkap (sorghum, varietas jagung berambut panjang), sedangkan di daerah serangan lundi  dilakukan pengolahan tanah, pengumpulan uret untuk dimusnahkan. Di daerah serangan kumbang dilakukan pengumpulan dengan memasang lampu perangkap di malam  hari, kemudian dikumpulkan dan dimatikan.

Tanam serentak harus diprogramkan secara matang jauh sebelum musim tanam tiba, diupayakan meliputi batas­-batas alamiah maupun batas-batas penggolongan air meliputi hamparan yang cukup luas sesuai dengan kemampuan daya dukung sumberdaya yang ada.

Jagung bisa ditanam secara monokultur atau ditumpangsarikan dengan padi gogo, palawija lain, atau sayuran. Selain yang berhubungan dengan upaya penekanan OPT juga perIu diperhatikan penataan tanaman yang baik agar kompetisi antar tanaman dalam mengambil unsur hara, radiasi matahari dan ruang tumbuh tidak berpengaruh buruk terhadap hasil panen.

Pergiliran tanaman bertujuan untuk memutus rantai makanan sehingga dapat memutus siklus hidup OPT, maupun menghindari resiko ketidakseimbangan unsur hara yang tersedia. Pergiliran tanaman disesuaikan dengan jenis lahan dan jenis pengairannya atau lamanya bulan basah.

Waktu tanam hendaknya mempertimbangkan ketersediaan air (irigasi maupun air hujan), kehadiran dan kemungkinan berkembangnya OPT utama.

Dengan mengatur waktu tanam yang tepat diharapkan agar pertanaman terhindar dari serangan OPT atau dapat mengurangi serangan yang lebih berat. Waktu tanam yang tepat ialah pada awal musim kemarau dan awal musim hujan. Apabila disekitar lahan pertanaman banyak serangan bulai, maka penanaman sebaiknya ditunda.

Varietas unggul digunakan sesuai dengan jenis lahan, respon air, tipe tanah dan tekanan lingkungan setempat yaitu musim, serta pertimbangan lain yang dibutuhkan. Apabila memungkinkan digunakan varietas yang tahan atau toleran terhadap OPT utama dan sebaiknya dilakukan pergiliran varietas.

Untuk menjamin produktivitas yang tinggi, gunakan benih bermutu tinggi (berIabel/ bersertifikat), baik untuk genetik (terutama tahan penyakit bulai), fisik maupun mutu fisiologisnya, murni, mulus, berdaya kecambah tinggi. Benih yang dibutuhkan 30-35 kg/ha.

Untuk mengetahui daya tumbuh dan mendeteksi patogen  dapat dilakukan uji dengan menumbuhkan benih pada media tanam setelah 2 minggu tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bulai pada daun pertama dan atau kotiledon.

Untuk daerah endemis penyakit bulai perIu perlakuan benih (seed treatment) dengan menggunakan mikoriza dan PGPR untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit bulai atau fungisida efektif. Jangan menggunakan benih jagung yang berasal dari lokasi atau pertanaman yang terserang bulai.

Pada lahan sawah (irigasi dan tadah hujan) jagung ditanam setelah padi dan lahan tidak perlu diolah. Untuk menghilangkan gulma, tanah diolah secara dangkal. Di daerah serangan ulat tanah, dilakukan pengolahan tanah atau penggenangan lahan.

Pada lahan tegalan dengan kemiringan lebih dari 3%, dilakukan pengolahan tanah secara dangkal (minimum tillage) yang diikuti pembuatan sengkedan (terasering), sedangkan pada lahan datar tanah diolah hingga gembur dan gulma dibersihkan. Di daerah endemis lundi, penggerek batang dan penyakit cendawan, tanah dibalik dan diolah lebih dalam.

Pada lahan bertekstur berat pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara intensif, dan pada lahan bertekstur ringan pengolahan tanah dapat dilakukan secara minimum, yaitu dengan mencangkul tanah pada barisan yang akan ditanam selebar 20-40 cm.

Setelah guludan siap, diberikan pupuk organik secukupnya diberikan sebelum tanam.

Air dari lahan bekas padi dikeluarkan (dikeringkan) pada saat 10 hari sebelum panen. Khusus pada tanah berat yang kelebihan air perlu dibuat saluran pengering/drainase.

Sisa-sisa tanaman jagung maupun serealia lain pada lahan bekas jagung dibersihkan dan dibakar untuk mengurangi sumber inokulum bulai, hawar pelepah, hawar daun karat, dan penggerek batang. Di daerah yang sukar mendapatkan tenaga kerja dan gulma menjadi masalah (terutama di luar jawa), herbisida pratumbuh dapat digunakan.

 

Fase Tanam

1. Karakteristik agroekosistem

Lahan akan terbebas dari sumber serangan OPT jika dilakukan pengolahan tanah dengan baik. Pengolahan tanah yang kurang baik di lahan bekas jagung, biasanya menyisakan sumber serangan yang berpotensi yaitu lundi, penggerek batang jagung dan penyakit bulai.

2. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem

Waktu tanam pada suatu hamparan dianjurkan dilakukan secara serentak yaitu pada kisaran 10 hari.

Pada lahan tegalan, jagung ditanam pada musim labuhan atau permulaan musim hujan sekitar September-November, ataupun musim marengan (saat musim hujan hampir berakhir) sekitar Februari-April.

Di daerah serangan lalat bibit, hendaknya penanaman dilaksanakan secara serentak dan hindarilah penanaman pada awal musim hujan (Oktober-November).

Pada lahan sawah, jagung ditanam pada musim labuhan (varietas genjah), musim marengan, dan musim kemarau.

Apabila jagung ditanam secara monokultur populasi tanaman ditentukan oleh jarak tanam dan mutu benih. Populasi tanaman yang dianjurkan adalah 66.600 tanaman/ha dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm, satu biji per lubang atau dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm 2 biji per lubang.

Pada lahan bekas tanam padi sawah maupun tegalan penanaman jagung dilakukan dengan cara tugal dengan sistem larikan. Tiap lubang tugal diisi 2 biji jagung, kemudian ditutup dengan tanah, tanah berpasir atau abu jerami.

Pada daerah serangan hawar pelepah gunakan pupuk secara berimbang. Unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman jagung ialah N, P, dan K. Varietas jagung yang berumur dalam, lebih tanggap terhadap pemupukan (memerlukan pupuk relatif lebih banyak). Selain itu dosis pupuk juga bergantung pada jenis lahan, jenis tanah dan kesuburannya, juga residu dari pemberian pupuk pada tanaman sebelumnya.

Pupuk TSP (P205), dan KCI (K205) cukup diberikan satu kali bersamaan saat tanam. Sebagai patokan, dosis pupuk TSP sebanyak 40-80 kg/ha, dan KCl 50 kg/ha. Pupuk Urea (N) diberikan 3 kali, yaitu pertama (pupuk dasar) sebanyak 1/3 bagian pada waktu tanam, kedua sebanyak 1/3 bagian pada umur 25-30 hst, dan ketiga sebanyak 1/3 bagian pada umur 40-45 hst.

Pupuk dimasukkan dalam lubang tugal di kiri/kanan tanaman dan ditutup dengan tanah, atau ditempatkan sepanjang larikan, dengan jarak 7-10 cm dari lubang tanam dan ditutup tanah atau segera dibumbun. Dengan cara ini hasil dapat ditingkatkan 20-30% bila dibandingkan dengan hanya meletakkan pupuk dipermukaan tanah dan dibiarkan terbuka, karena urea akan menguap. Dianjurkan penggunaan pupuk kandang/organik, pada daerah yang memungkinkan.

 

Fase Vegetatif

1. Umur 0 - 14 hst

Fase ini merupakan fase kritis tanaman terhadap bulai. Pada fase ini OPT yang menyerang ialah lalat bibit, ulat tanah, lundi, dan penyakit bulai. Beberapa jenis gulma telah tumbuh terutama pada lahan yang diolah kurang baik.

Pada pertanaman tumpangsari, penanaman tanaman lain dilakukan pada fase ini.

a. Penyulaman

Apabila pada umur 4-7 hst tanaman yang tumbuh kurang dari 90%, perlu dilakukan penyulaman dengan biji. Penyulaman dengan cara menugal di samping bekas lubang tugal terdahulu.

b. Pengelolaan air

Tanaman perlu diairi sesuai kebutuhan (sekitar 1-2 minggu sekali).

c. Pemupukan

Pemupukan N pada awal pertumbuhan diberikan ¼ dosis dengan cara dikocor. Pemupukan ZA dan SP-36 dengan takaran berturut-turut 50 kg/ha dan 100-200 kg/ha. Pupuk KCl dengan takaran 50-200 kg/ha. Pupuk KCl diberikan 3/4 dari total pupuk yang diperlukan. Dosis pupuk dan cara pemberian disesuaikan dengan kondisi hara tanah. 

a. Pengamatan

Pengamatan populasi tanaman yang terserang penyakit bulai dilakukan terhadap populasi tanaman yang terkena bulai dalam satu petak.

Pengamatan hama dilakukan terhadap 10 rumpun contoh yang diambil secara sistematik diagonal atau secara acak dalam petak alami, kemudian dianalisis untuk pengambilan keputusan pengendaliannya. Pengamatan pada tanaman muda dilakukan pada tanaman umur 7 dan 14 hst.

b. Analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan.

Pada fase ini OPT yang menyerang ialah lalat bibit, ulat tanah, lundi, dan penyakit bulai. Benih yang telah terinfeksi patogen bulai akan menunjukkan gejala klorotik pada daun pertama dan atau kotiledon pada tanaman muda.

Apabila ditemukan tanaman terserang bulai segera dicabut dan dikubur minimal sedalam 0,5 meter.

Pada fase ini ulat grayak biasanya baru menetas dan masih mengelompok pada pucuk-pucuk tanaman, apabila dijumpai hal demikian segera dikendalikan.

Apabila dari hasil pengamatan ditemukan populasi larva lalat bibit telah mencapai ambang pengendalian, dilakukan pengendalian dengan insektisida yang  diizinkan dan terdaftar. Lalat bibit dominan pada bulan Desember/Januari (pada musim hujan).

Pada siang hari ulat tanah berlindung dekat pangkal batang, pengendalian ulat tanah cukup dilakukan dengan cara mekanis. Apabila populasi/serangan ulat tanah mengkhawatirkan dapat digunakan insektisida yang terdaftar dan diizinkan.

2. Umur 15 - 42 hst

Pada fase ini setelah tanaman berumur 28 hst pertumbuhan tinggi tanaman sangat cepat. Gulma mulai berkembang, menyebabkan terjadinya persaingan antara tanaman dan gulma dalam penyerapan unsur hara.

Hama dan penyakit pada fase ini adalah penggerek batang, lundi, ulat grayak, wereng jagung, penyakit bulai, bercak daun dan hawar daun.

a. Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan pertama dilakukan secara mekanis pada umur ± 15 hst, dan penyiangan kedua pada umur 25-30 hst sekaligus dilakukan pembumbunan pada waktu pemupukan N atau ZA kedua.

b. Pemupukan

Pemupukan N dan K kedua diberikan pada umur 25-30 hst, diletakkan dipermukaan tanah dan segera dibumbun. Pupuk susulan ketiga diberikan pada umur 40-45 hst, dimasukkan dalam lubang tugal di samping rumpun tanaman dan ditutup kembali dengan tanah.

c. Pengairan

Pada lahan irigasi teknis, apabila lahan mulai kering atau curah hujan berkurang, lakukan pengairan setiap 1-2 minggu (sesuai kebutuhan), terutama pada waktu pengisian tongkol/pembungaan.

  

Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan

1. Pengamatan

Pada fase ini, hama yang perlu diperhatikan terutama ulat grayak. Hama lain yang biasanya muncul tetapi tidak mengkhawatirkan ialah kumbang landak dan lundi. Wereng jagung kerapkali menimbulkan serangan yang berarti. Penyakit penting yang perlu diperhatikan ialah penyakit bulai, bercak daun dan hawar daun.

Pada fase vegetatif ini biasanya telah dijumpai berbagai musuh alami. Kehadiran musuh alami sejak awal pertumbuhan tanaman merupakan pengendali biologis yang potensial. Predator biasanya lebih dominan dibandingkan parasitoid. Predator yang banyak ditemukan biasanya antara lain golongan laba-Iaba, kumbang coccinellid, capung, semut, dan belalang sembah.

2. Analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mengamati dan menganalisis kondisi agroekosistem yang ada yaitu :

 

Fase Generatif

Fase penyerbukan dan pembuahan (43-70 Hst)

Pada fase ini akar cabang mulai tumbuh dari ruas bagian bawah dekat tanah yang berguna selain menunjang tanaman juga dapat menyerap hara tanaman. Pada umur 43-63 hst tanaman jagung mulai berbunga, rambut tongkol muncul dan mulai berlangsung penyerbukan. Setelah penyerbukan berlangsung, biji mulai terbentuk dan berkembang.

Hama dan penyakit pada fase ialah penggerek batang dan penggerek tongkol, kumbang landak, wereng jagung, bulai, karat, hawar pelepah, bercak daun, busuk tongkol, dan hawar daun, serta penyakit virus mosaik kerdil yang ditularkan oleh vektor kutu daun (Rophalosiphum maidis).

Budidaya dan pengelolaan agroekosistem

Pada fase penyerbukan dan pembuahan tanaman membutuhkan air yang cukup. Pemupukan N ketiga telah dilakukan akhir fase sebelumnya atau pada awal fase ini (40-50 hst). Pada lahan irigasi teknis dilakukan pemberian air dengan baik agar lahan dipertahankan tidak kering dan tidak becek.

a. Pengamatan

Hama dan penyakit pada fase ini adalah penggerek batang, penggerek tongkol, karat, bercak daun, busuk pelepah, virus mosaik dan busuk tongkol. Pengamatan terhadap hama penggerek tongkol dilakukan dengan mengamati adanya telur pada rambut tongkol yang baru keluar.

Pengamatan terhadap musuh alami dapat dilakukan untuk dasar analisis dalam pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian.

b. Analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan

Hasil pengamatan dan analisis agroekosistem dapat diambil tindakan responsif sebagai berikut :

 

Fase pembentukan biji (71-98 hst).

a. Karakteristik agroekosistem

Setelah fase penyerbukan, biji mulai terbentuk dan berkembang. Hama dan penyakit pada fase ini ialah penggerek batang jagung, penggerek tongkol, tikus, dan busuk tongkol.

b. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem

Air sangat dibutuhkan pada periode pembuahan sampai pengisian biji, oleh karena itu perlu diperhatikan keadaan kelembaban tanahnya. Apabila hujan berkurang dan tanah dalam keadaan mulai mengering sedang air irigasi tersedia, tanah perlu diairi sesuai dengan kebutuhan.

 

Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan

1.Pengamatan

Hama dan penyakit yang perlu diamati pada fase ini adalah busuk tongkol dan tikus.

Pengamatan terhadap musuh alami dapat dilakukan untuk dasar analisis pengambilan keputusan dalam tindakan pengendalian.

2. Analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan

Apabila pada fase ini berbagai jenis penyakit muncul, pengendalian tidak menguntungkan lagi, oleh karena itu harus diantisipasi sejak dini.

Tanaman yang terserang busuk tongkol segera dimusnahkan karena biji yang terserang beracun bagi ternak dan manusia bila termakan dan sebagai sumber inokulum bagi tanaman di sekitarnya. Penyakit busuk tongkol dominan bila curah hujan tinggi, rambut jagung perlu disemprot dengan fungisida atau agens antagonis.

 

Fase pemasakan dan pengeringan biji/batang ( > 98 hst-panen)

Karakteristik agroekosistem

Pada fase ini kelobot mulai menguning dan kering. Bila kelobot dikupas terlihat biji jagung yang mengkilap dan jika ditusuk dengan kuku ibu jari tidak tampak bekas tusukannya atau pangkal biji (lapisan absisi) sudah tampak menghitam, maka jagung siap panen.

Pada saat biji telah terbentuk sempurna, dan memasuki fase pemasakan biji, pertanaman relatif tidak membutuhkan air lagi sehingga tidak perlu diairi, dan 2 minggu sebelum panen lahan perlu dikeringkan.

a. Pengamatan

Pada fase ini hama yang masih ada yaitu tikus.

b. Analisis agroekosistem dan pengambilan keputusan

Apabila pada fase ini populasi tikus membahayakan hasil panen perlu dilakukan pengendalian dengan pengumpanan. Hama tikus perlu diperhatikan sejak terbentuknya tongkol.

 

Panen

Panen dilakukan pada saat jagung mencapai kemasakan biji yang tepat, yaitu daun-daunnya telah menguning kering, biji mengering dan keras. Pada saat panen kadar air biji berkisar antara 35-40%.

Panen yang dilakukan terlalu awal menyebabkan biji keriput. Panen terlalu akhir apabila banyak hujan dapat terserang cendawan, terutama Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Cara panen dilakukan dengan memetik tongkol berkelobot. Apabila diperlukan untuk benih maka harus dipilih tongkol yang mulus, besar, dan tua. Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air < 14 %.

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)