OPERASIONAL PENGELOLAAN OPT  KEDELAI DI TINGKAT  LAPANGAN

 

  1. Karakteristik ekosistem
  2. Pada lahan bekas padi relatif bersih dari gulma.
  3. Pada hamparan yang masih belum ada pertanaman kedelai populasi hama sangat Iangka.
  4. Pada Iahan bekas kedelai atau aneka kacang, kerapkali masih terdapat sumber inokulum penyakit (Sclerotium rolfsii, Rhizoctonia soIani, Phytium , Fusarium sp.).
  5. lnokulum cendawan solani penyebab busuk pelepah pada sisa tanaman padi yang terinfeksi patogen masih bertahan dan aktif pada Iahan yang becek atau lembab.

 

  1. Pengelolaan agroekosistem

Pratanam merupakan tahap perencanaan oleh organisasi di tingkat kelompok tani, dan menjalin kerjasama antar kelompok tani. Salah satu kegiatan perencanaan yang penting ialah penyusunan RDK dan RDKK untuk kegiatan usahatani secara menyeluruh. Pada periode ini dilakukan persiapan untuk menentukan pola tanam yaitu penentuan varietas, pergiliran tanaman, waktu tanam dan tanam serentak. Selain itu dilakukan penyiapan lahan yang baik, pengelolaan tanaman perangkap, sanitasi sumber inokulum, dan penciptaan keadaan yang dapat meningkatkan pengendalian alamiah untuk menjamin Iangkanya populasi OPT pada awal pertumbuhan tanaman. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan atau kestabilan ekosistem yang lebih baik selama pertumbuhan tanaman.

 

Kegiatan perencanaan maupun pelaksanaan selama periode pra tanam meliputi:

  1. Perencanan tanam serentak

 

  1. Perencanaan pergiliran tanaman

 

  1. Pemilihan varietas dan persiapan benih

 

  1. Pengolaan tanah/ Perlakuan tanah

 

Lahan sawah irigasi dan tadah hujan

 

Lahan tegalan

 

  1. Saluran drainase

 

  1. Sanitasi selektif dan pengendalian gulma

 

  1. Penanaman tanaman perangkap

Di daerah endemis, ulat grayak, ulat buah, pengisap polong, dan peng-gerek polong dapat dilakukan pengelolaan hama tersebut dengan meng-gunakan tanaman perangkap yaitu sebagai berikut:

 

Perangkap ulat grayak

Ulat grayak Spodoptera litura lebih tertarik meletakkan telur pada daun kedelai varietas tertentu seperti Anjasmoro, Burangrang, Dieng, Wilis. Oleh karena itu tanamlah varietas tersebut sebagai perangkap di sekitar kedelai yang ditanam (varietas lain) agar serangan ulat grayak dapat ditekan.

 

Perangkap ulat buah

 

Perangkap pengisap polong

  1. ditanam 14 hari sebelum tanam kedelai.
  2. ditanam di sekeliling hamparan kedelai dan di lahan atau di setiap pematang membujur/melintang (berjarak antar barisan sekitar 25 m), dengan arah timur-barat.
  1. Ditanam bersamaan dengan tanam kedelai.
  2. Ditanam di bagian pinggir hamparan kedelai, terutama pada lahan yang berbatasan dengan lokasi sumber infestasi hama.
  1. Jarak tanam 40 cm x 20 cm, dengan 2-3 biji per lubang.

 

Perangkap penggerek polong

 

  1. Perbaikan lahan masam

Pada tanah masam (pH < 5,5) bila tidak tersedia tanaman yang toleran terhadap tanah masam, lakukan penambahan kompos matang (pupuk kandang atau pupuk hijau), atau pengapuran. Dosis kapur sebanyak 1-2 ton per ha atau sesuai dengan rekomendasi setempat, ditaburkan merata pada permukaan tanah, yang dilaksanakan pada 3-6 bulan sebelum tanam. Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman lahan ialah dengan membuat saluran keliling yang dalam, kemudian airnya dibuang dan diganti dengan air sungai (air hujan).

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. solani, pada lahan endemis yang basah atau becek akan tetap aktif apabila tersedia inangnya atau sisa-sisa tanaman.
  3. Waktu penanaman pada suatu hamparan dianjurkan hanya berlang¬sung selama 10 hari.
  4. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli) akan meletakkan telur segera setelah kedelai tumbuh.

 

  1. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem
  2. Inokulasi Rhizobium

 

  1. Waktu tanam

 

  1. Jarak tanam

Jarak tanam untuk monokultur 40 cm x 15-20 cm, perkiraan populasi 350.000-400.000 tanaman/ha. Untuk tumpang sari menggunakan varietas Dena 1 atau Dena 2 yang toleran naungan (maksimal naungan 50%).

  

  1. Perlakuan benih

Untuk mengurangi serangan penyakit tular tanah dilakukan perlakuan benih (seed treatment) menggunakan cendawan antagonis (Trichoderma sp., Gliocladium sp.) dan lalat kacang menggunakan pestisida yang efektif dan diijinkan oleh Menteri Pertanian (dimehipo, klorpirifos, sipermetrin, asefat, fenpropatrin, deltametrin, dimetoat, metomil, karbofuran, MIPC, alfametrin, BPMC, etofenfroks, kalbosulfan, esfenvalerat, fenitrotion, kartap hidroklorida, tiodikarb, dan permetrin).

 

 

 

  1. Cara tanam

Pada lahan sawah maupun tegalan penanaman kedelai dilakukan dengan cara tugal. Tiap lubang tugal diisi 2-3 biji kedelai kemudian ditutup dengan tanah berpasir tipis-tipis, atau abu jerami, atau langsung ditutup mulsa jerami.

 

  1. Mulsa jerami

Penggunaan mulsa jerami untuk mengurangi serangan lalat kacang, menekan pertumbuhan gulma dan menstabilkan kelembaban tanah.

 

  1. Pemupukan

Dosis pupuk bergantung pada jenis tanah dan tingkat kesuburannya (status hara tanah), sesuai dengan rekomendasi setempat.

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. Pada fase ini tanaman mempunyai keping biji (kotiledon) yang telah membuka pada satu hari setelah tanaman muncul, dan sepasang daun tunggal (daun pertama). Serangan larva yang berasal dari telur yang diletakkan lalat kacang sejak tanaman berumur 4 sampai 10 HST, akan dapat menyebabkan kematian tanaman.
  3. OPT penting yang perlu diperhatikan adalah lalat kacang, kutu kebul (Bemisia tabaci), Kumbang tanah kuning (Longitarsus suturellinus), ulat tanah (Agrotis spp), cendawan tular tanah (Pytium, S. rolfsii, R. solani).

 

  1. Pemeliharaan tanaman
  2. Penyulaman

Pada umur 7 HST dilakukan pemantauan, apabila tanaman yang tumbuh kurang dari 90% perlu dilakukan penyulaman dengan cara menugal disamping lubang tugal sebelumnya.

  1. Pengelolaan air

 

  1. Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan
  2. Pengamatan dilakukan terhadap populasi imago lalat kacang yang hinggap pada keping biji dan daun muda pada umur 6 HST, atau pengamatan gejala serangan berupa bintik-bintik putih atau coklat dan alur gerekan larva pada keping biji dan daun pertama. Apabila lalat kacang mencapai ambang pengendalian sebanyak 1 ekor lalat dewasa/50 rumpun atau serangan mencapai > 2,5 %, maka perlu dilakukan pengendalian pada 8 HST dengan pestisida nabati (mimba) atau insektisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Menteri Pertanian.
  3. Apabila diketahui terdapat serangan cendawan tular tanah ( rolfsii, R. solani) yaitu tanaman layu atau mati, tanaman tersebut dicabut, dikumpulkan, dan dibakar. Bekas tanaman yang dicabut dilakukan aplikasi cendawan antagonis.
  4. Pengamatan kumbang tanah kuning (Longitarsus suturellinus) dilakukan di pucuk tanaman dan ulat tanah (Agrotis spp) di pangkal batang bersamaan dengan pengamatan lalat kacang.
  5. Pertanaman yang menggunakan mulsa jerami, pemantauan dilakukan terhadap tanaman terserang pada umur 6 HST, berdasarkan tanda tusukan dan gerekan larva pada kotiledon dan daun pertama.
  6. Musuh alami seperti laba-Iaba, paederus, parasitoid yang menyerang larva dan pupa Agromyzidae dan cendawan entomopatogen (Metarrhizium, Beauveria sp., Sl-NPV) perlu diamati sebagai dasar pengambilan keputusan.

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. Awal fase ini daun trifoliat (majemuk) pertama telah membuka penuh, tanaman tumbuh dan berkembang hingga menjelang berbunga pada umur 30 HST.
  3. Hama penting yang perlu diperhatikan adalah lalat pucuk (Melanagromyza dolicostigma), lalat batang (Melanagromyza sojae), kumbang daun kedelai (Phaedonia inclusa), ulat grayak (Spodoptera litura) dan vektor virus yaitu kutu hijau (Aphis glycines) dan kutu kebul (Bemisia tabaci), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), pengorok daun (Biloba/Stomopteryx subsecivella), penggulung daun (Lamprosema indicata, Adoxophyes, dan Homana sp.), kumbang tanah kuning, dan tungau merah (Tetranychus cinnabarius).
  4. Serangan virus mozaik kedelai (SMV), virus bilur kacang tanah (PstV), kerdil kedelai (SSV), mozaik kuning kedelai (SYMV) ditularkan oleh Aphis sp., dan virus belang tersamar kacang tunggak (CMMV) yang ditularkan oleh Bemisia tabaci, sampai tanaman berumur 21 HST masih sangat membahayakan pertumbuhan tanaman dan produksi.
  5. Imago ulat buah datang pada sekitar umur 25 HST, dan pada umur tersebut tanaman sangat disukai untuk tempat meletakkan telumya, termasuk ulat grayak dan ulat jengkal.
  6. Kerusakan daun pada fase ini masih dapat dikompensasi dengan pembentukan daun baru. Kehilangan daun sampai dengan 30% pada fase ini hanya menurunkan produksi sekitar 3%, tetapi keberadaan hama daun perlu diwaspadai agar dapat dikendalikan sebelum mencapai instar 4 dan tidak merusak pada fase berikutnya.
  7. Pertanaman kedelai MK I setelah padi biasanya relatif bebas dari serangan penyakit karat. Serangan penyakit karat biasanya terjadi pada tanaman kedelai kedua terutama apabila terjadi keterlambatan tanam.
  8. Serangan virus yang ditularkan oleh serangga vektor pada saat tanaman muda akan menggagalkan pembentukan polong. Serangan kumbang daun kedelai juga dapat mematikan tanaman karena imago makan batang bagian dari pucuk dan larvanya makan daun tempat telur diletakkan.

 

  1. Pemeliharaan Tanaman
  2. Penyiangan pertama dan kedua
  1. Pengairan
  1. Pemupukan tambahan

Pemupukan tambahan dilakukan pada umur 20 HST untuk merangsang pembungaan dengan menggunakan pupuk cair sesuai rekomendasi.

 

  1. Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan
  2. Pengamatan lalat pucuk dilakukan dengan cara menghitung jumlah pucuk tanaman yang layu. Lalat batang (Melanagromyza sojae) diamati berdasarkan tanaman yang pertumbuhannya terhambat dan dilakukan pengambilan contoh tanaman yang menunjukan gejala kemudian dibelah untuk dilihat ada tidaknya larva dalam empulur. Kumbang daun kedelai (Phaedonia inclusa) diamati larva dan kumbangnya dengan tanda serangan kerusakan pada pucuk tanaman dan daun.
  3. Ulat grayak (Spodoptera litura) diamati larvanya dengan tanda serangan kerusakan pada epidermis daun. dan vektor virus yaitu kutu hijau (Aphis glycines) dan kutu kebul (Bemisia tabaci), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), pengorok daun (Biloba/Stomopteryx subsecivella), penggulung daun (Lamprosema indicata, Adoxophyes, dan Homana sp.), kumbang tanah kuning, dan tungau merah (Tetranychus cinnabarius).
  4. Serangan virus mozaik kedelai (SMV), virus bilur kacang tanah (PstV), kerdil kedelai (SSV), mozaik kuning kedelai (SYMV) ditularkan oleh Aphis, dan virus belang tersamar kacang tunggak (CMMV) yang ditularkan oleh Bemisia tabaci, sampai tanaman berumur 21 HST masih sangat membahayakan pertumbuhan tanaman dan produksi. 
  5. Amati karat daun (bercak coklat) pada permukaan bawah daun yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi, layu karena rolfsii, layu bakteri, layu fusarium dan antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotricum dematium f.sp. truncatum.
  6. Pada fase vegetatif biasanya ditemukan berbagai jenis musuh alami. Predator biasanya lebih dominan daripada parasitoid. Predator yang banyak ditemukan antara lain laba-Iaba, Andrallus, Reduviidae, kumbang Coccinellidae, capung, semut, dan belalang sembah. Parasitoid yang banyak dijumpai ialah parasitoid hama Agromyzidae, hama daun, dan vektor virus. Perhatikan populasi musuh alami yang ada saat pengamatan.
  7. Berdasarkan hasil pengamatan populasi OPT dan keberadaan musuh alami pada umur tanaman 14, 21, dan 28 HST, maka dapat diambil keputusan sebagai berikut :

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. Pada awal fase ini kedelai mulai berbunga, kemudian berkembang dan membentuk polong.
  3. Jenis hama yang mungkin ditemukan antara lain kumbang daun kedelai, ulat grayak, ulat jengkal, ulat buah ( armigera dan Heliothis spp.), penggerek polong (Etiella zinckenella dan E. hobsoni), pengisap polong yaitu kepik hijau (N. viridula) dan kepik hijau pucat (P. hybneri) dan kepik coklat kedelai (R. linearis dan Riptortus spp.), penggerek pucuk, pelipat daun, penggulung daun, tungau merah, Melanacanthus sp., dan vektor virus (kutu kebul dan kutu hijau).
  4. Pada fase ini beberapa jenis hama daun telah mencapai larva instar 3 apabila tidak dilakukan pengendalian pada fase sebelumnya. Pada awal fase ini imago dan telur penggerak polong dan pengisap polong mulai dijumpai, tetapi pada umumnya puncak populasi telur terjadi sekitar 50 HST.
  5. Kehilangan bunga, polong ataupun biji muda pada fase ini masih dapat dikompensasi dengan pembentukan bunga dan polong baru serta pengisian biji yang seharusnya kempis pada periode setelah 50 HST sampai dengan 63 HST.
  6. Penyakit pada daun yang perlu diperhatikan pada fase ini ialah SSV, SMV, CMMV, hawar bakteri (Pseudomonas), bisul bakteri (Xanthomonas sp.), cendawan karat (P. pachyrhizi) antraknosa (Colletotrichum sp.), dan bercak coklat (R. solani).

 

  1. Budidaya dan pengelolaan ekosistem

Pada fase berbunga dan pembentukan polong dan biji, tanaman membutuhkan air yang cukup. Kondisi lahan harus selalu diperhatikan agar lahan dipertahankan tidak kekeringan dan tidak becek. Pada lahan beririgasi teknis lakukan pemberian air dengan baik.

 

  1. Pengamatan, analisis ekosistem, dan pengambilan keputusan

Berdasarkan hasil pemantauan populasi OPT dan musuh alaminya, serta keadaan tanaman pada umur 35, 42, dan 49 HST, maka dapat diambil keputusan sebagai berikut :

  1. Pengendalian hama ulat buah pada ekosistem yang menggunakan tanaman perangkap (jagung) dilakukan dengan cara jagung dipanen muda (mulai sekitar akhir fase ini atau fase berikutnya) tergantung varietasnya, tidak perlu memperhatikan ambang pengendalian baik pada tanaman utama (kedelai) maupun pada tanaman perangkap (jagung).
  2. Apabila ditemukan populasi ulat buah lakukan pengumpulan, apabila populasinya cukup tinggi dan atau kerusakan buah melampaui ambang pengendalian 15 ekor instar 2, atau 10 ekor instar 3 setiap 10 rumpun atau kerusakan polong > 2 %, maka dapat dilakukan aplikasi insektisida efektif.
  3. Pengendalian kepik hijau, kepik hijau pucat, dan kepik coklat pada ekosistem yang menggunakan tanaman perangkap kacang hijau atau Sesbania rostrata, dilakukan apabila ditemukan populasi pengisap polong pada tanaman kacang hijau var. Merak mencapai 1 ekor /10 rumpun atau populasi imago cukup tinggi pada S.rostranta, maka dapat dilakukan aplikasi insektisida efektif pada tanaman perangkap tersebut.
  4. Pengendalian penggerek polong Etiella zinckenella pada ekosistem yang menggunakan tanaman perangkap kedelai var. Dieng, Malabar, dan MLG 3023, dilakukan apabila pada tanaman perangkap ditemukan 2 ekor ulat penggerek polong/rumpun, maka dapat dilakukan aplikasi insektisida efektif pada tanaman perangkap tersebut.
  5. Dengan tindakan seperti tersebut di atas diharapkan OPT tidak akan pindah ke pertanaman kedelai setelah 56 HST, dan parasitoid telur penggerek polong dan pengisap polong serta parasitoid larva penggerek polong dapat berfungsi lebih baik, sehingga hama polong pada pertanaman kedelai dapat ditekan hanya dengan kompleks musuh alami di lahan tersebut.
  6. Pengendalian hama pengisap polong yaitu kelompok telur, nimfa dan imago kepik hijau dan kepik hijau pucat yang masih mengelompok sedapat mungkin dilaksanakan dengan cara mekanis. Demikian juga pengendalian kepik coklat dapat dilakukan dengan cara menangkap atau menjaring imago pada pagi hari.
  7. Apabila populasi ulat grayak dan ulat jengkal relatif rendah, maka pengendaliannya dilakukan dengan cara pengumpulan ulat yang masih mengelompok maupun terhadap ulat besar. Apabila kerusakan daun karena ulat grayak, Spodoptera litura mencapai tingkat populasi 3 ekor instar 3/rumpun atau 4 kelompok telur /100 rumpun, dan atau ulat jengkal mencapai tingkat populasi 200 ekor instar 1, 120 ekor instar 2, atau 30 ekor instar 3 tiap 10 rumpun atau 12,5% kerusakan daun, maka dilakukan aplikasi insektisida efektif.
  8. Apabila ditemukan populasi imago kumbang daun kedelai 1 ekor /10 rumpun atau polong terserang, maka perlu dilakukan pengendalian dengan insektisida efektif.
  9. Apabila ditemukan ulat penggulung daun lakukan sanitasi daun terserang dan apabila populasi mencapai 30 ekor/10 rumpun atau kerusakan daun mencapai 12,5 %, maka dapat dilakukan pengendalian dengan insektisida efektif.
  10. Perlu diketahui bahwa efektifitas insektisida menjadi sangat rendah apabila ulat-ulat perusak daun tersebut mencapai instar 4,5 atau 6. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian secara mekanis.
  11. Apabila dapat dideteksi persentase larva yang terparasit, larva yang terkena virus, dan prakiraan populasi yang akan mati dimangsa predator maka dalam menentukan ambang pengendalian perlu dikoreksi yaitu hanya menghitung populasi aktif yang dapat menimbulkan kerusakan.
  12. Kalau populasi ulat grayak dan ulat buah dominan dan diketahui terdapat larva yang mati karena virus Ha-NPV dan Sl-NPV, maka untuk dapat meningkatkan peran musuh alami dianjurkan penggunaan Ha-NPV dan Sl-NPV tersebut dengan cara seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
  13. Penyakit yang muncul pada fase lanjut relatif sulit dikendalikan, oleh karena itu harus diantisipasi sejak dini, yaitu sebelum 30 HST.
  14. Bila persentase daun terkena penyakit karat mencapai > 20% segera dikendalikan dengan fungisida efektif atau diberi pupuk daun yang mengandung Cu, Ca, Mg, dan S.
  15. Apabila faktor lingkungan mendukung perkembangan penyakit antraknosa lakukan tindakan preventif dengan fungisida atau dengan Pseudomonas fluorescens pada stadia berbunga.
  16. Apabila dijumpai vektor seperti Aphis glycine atau Bemisia tabaci penyebab virus belang samar kacang tunggak (CMMV), maka perlu dilakukan pengendalian kimiawi menggunakan insektisida efektif.

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. Pada fase ini terjadi pertumbuhan polong hingga pertumbuhan biji maksimum.
  3. Hama utama yang mungkin dijumpai ialah hama daun dan hama polong seperti pada fase sebelumnya.
  4. Ulat daun yang belum dikendalikan pada fase sebelumnya karena larva masih kecil belum mencapai ambang pengendalian atau lolos dari usaha pengendalian, maka pada fase ini telah mencapai larva besar. Kerusakan daun pada fase ini sangat berpengaruh terhadap hasil panen.
  5. Pada periode ini tanaman sangat kritis terhadap semua gangguan lingkungan termasuk kebutuhan air.
  6. Stadia hama polong yang penting diperhatikan ialah larva ulat buah, imago, larva dan telur kumbang daun kedelai, imago, nimfa dan telur pengisap polong; dan larva penggerek polong.
  7. Keberadaan hama perusak polong sangat membahayakan produksi, oleh karena itu perlu dilakukan pengamatan populasi secara intensif. Penyakit penting pada fase ini ialah karat daun, karena dapat menyebabkan gugur daun, busuk coklat dan bintik hitam/antrakrosa dapat menginfeksi polong dan biji.
  8. Penyakit yang perlu diperhatikaan pada fase ini ialah seperti pada fase sebelumnya, yaitu busuk coklat ( solani), antraknosa (C. dematium) pada polong, dan karat daun (P. pachyrhizi).

 

  1. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem
  2. Fase pengisian biji memerlukan keadaan lahan yang cukup air atau perlu dipertahankan agar kandungan air dalam tanah pada kondisi sekitar kapasitas lapang.
  3. Apabila hujan berkurang dan tanah dalam keadaan kering serta air irigasi tersedia, tanaman perlu diairi sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan
  2. Biasanya populasi hama perusak daun yaitu ulat grayak, pelipat daun, penggulung daun, ulat jengkal, dan ulat lainnya telah menurun, tetapi masih perlu diamati karena tiap lokasi populasinya bisa berbeda.
  3. Pemantauan populasi larva ulat buah dilakukan pada umur 56, 63 dan 70 HST. Hama ulat buah diharapkan telah teratasi dengan penggunaan tanaman perangkap (jagung). Biasanya bersifat kanibalisme dalam rambut atau tongkol jagung sehingga ulat yang hidup hanya 1-2 ekor per tongkol.
  4. Hama penggerek polong dan pengisap polong perlu dipantau secara intensif baik pada tanaman kedelai maupun pada tanaman perangkap. Pengamatan tersebut dilakukan terutama pada pertanaman calon benih.
  5. Pengamatan populasi musuh alami perlu terus dilakukan, apabila populasinya cukup tinggi maka penggunaan pestisida kimia perlu dipertimbangkan lagi.
  6. Berdasarkan hasil pemantauan populasi OPT dan keadaan umur tanaman, maka dapat diambil keputusan pada tiap pengamatan sebagai berikut :

 

  1. Karakteristik agroekosistem
  2. Polong telah berisi penuh, kemudian daun-daun mulai menguning.
  3. Hama yang masih perlu diwaspadai ialah pengisap polong.

 

  1. Budidaya dan pengelolaan agroekosistem
  2. Perhatikan selalu kondisi kelembaban lahan. Pada saat biji telah terbentuk sempuma, dan memasuki fase pemasakan polong, pertanaman relatif tidak membutuhkan air lagi sehingga tidak perlu diairi, bahkan apabila kelebihan air maka perlu dibuang.
  3. Pengamatan ciri-ciri tanaman menjelang panen perlu diperhatikan agar panen tidak terlalu cepat atau terlambat.

 

  1. Pengamatan, analisis agroekosistem, dan pengambilan keputusan
  2. Pengamatan pada umur 77 HST (tidak termasuk varietas genjah) dilakukan pada populasi pengisap polong. Serangan pengisap polong pada umur tersebut masih dapat menyebabkan penurunan hasil dan daya kecambah. Pengendalian dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian, yaitu 1 ekor/10 rumpun.
  3. Pemantauan pertanaman dan polong yang terkena penyakit pada fase ini masih diperlukan, apabila hendak menyeleksi tanaman yang baik untuk keperluan benih.

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)