Kekeringan pada Kedelai

 

Kekeringan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan air pada fase tertentu yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimal sehingga berpotensi menurunkan produksi tanaman.

Luas pulih adalah luas tanaman yang terkena kekeringan, pertumbuhannya kembali normal setelah dilakukan tindakan dan atau turun hujan yang dinyatakan dalam hektar

Luas areal waspada kekeringan adalah areal tanaman disekitar tanaman yang terkena kekeringan dan atau areal lain yang berpotensi terkena kekeringan dengan mempertimbangkan kondisi iklim, ketersediaan sumber air, ketahanan varietas dan umur tanaman yang dinyatakan dalam hektar.

Gejala Kerusakan Akibat Kekeringan

Terkena :

Gejala kerusakan :

Tanaman layu pada siang hari (ada matahari), kembali segar pada waktu malam hari atau diberi air

 

Gejala kerusakan :

Daun layu mulai menguning dan bagian pinggiran daun menggulung

 

Gejala kerusakan :

Daun layu menguning dan menggulung

 

Gejala kerusakan :

Daun sudah menggulung dan mengering

 

 

Strategi Penanganan Kekeringan Kedelai

 

1. Biopori

Lubang resapan biopori atau rumah cacing adalah lubang silindris yang dibuat secara vertical ke dalam tanah dengan diameter 10 s/d 30 cm dan kedalaman sekitar 80 s/d 100 cm atau tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori yang merupakan pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman, untuk menerima limpasan air hujan dan menyimpannya pada kedalaman yang lebih dalam. 

Manfaat Biopori:

Biopori merupakan cara yang efektif untuk menyerap kembali air hujan yang biasa menggenangi di daerah rawan banjir. Dengan meresapnya air hujan ke dalam tanah maka sejumlah volume air yang mampu diserap oleh sistem biopori akan disimpan sebagai cadangan air tanah di musim kemarau.

Mengurangi permasalahan sampah yang menumpuk, dengan memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori.

Memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan bahan organik yang dapat memperbaiki pori-pori tanah, sehingga apabila ada kelebihan air dapat langsung diserap oleh tanah.

Sampah organik yang masukkan ke lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman.

Organisme dalam tanah mampu membuat sampah menjadi mineral-mineral yang dapat larut dalam air, sehingga air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral.

 

Bahan dan alat :

 

Gambar . Pembuatan Biopori

 

Cara pembuatan lubang biopori:

 

2. Sumur pantek/sumur suntik

Keterbatasan air karena saluran irigasi yang kering atau tidak adanya saluran irigasi, sungai yang sedikit tidak menghambat petani untuk menanam padi. Alternatif pengairan dengan menggunakan sumur pantek/suntik dapat mengairi puluhan hektar sawah.

Bahan dan alat:

 

Gambar .  Pembuatan Sumur Suntik/Pantek

 

Cara pembuatan sumur pantek/suntik:

Pembuatan sumur pantek/suntik menggunakan bahan dan alat yang sama seperti pembuatan sumur bor.

 

3. Pompanisasi

Mengalirkan air dari sumber air (sungai, sumur, embung dan sebagainya) ke lahan yang terkena kekeringan.

 

Gambar . Pompanisasi (Sumber: Drektorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian)

 

4. Embung

Bangunan konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air limpasan ( run off) serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian

Standar Teknis

 

Kriteria Lokasi

Konstruksi Embung

Konstruksi bangunan embung sekurang-kurangnya terdiri dari badan embung, pintu/saluran pemasukan (inlet), dan pengeluaran (outlet). Konstruksi dan kapasitas embung sebagai suplesi air irigasi disesuaikan dengan kondisi geografis setempat

 

Gambar . Embung dan Dam Parit (Sumber: Drektorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian)

 

 

 5. Dam Parit

Adalah suatu bangunan konservasi air berupa bendungan kecil pada parit-parit alamiah atau sungai-sungai kecil yang dapat menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk disalurkan sebagai air irigasi

  

6. Sumur Resapan

Adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan atau air saluran agar dapat meresap ke dalam tanah.

Pemilihan lokasi pembuatan sumur resapan sebagai berikut:

  1. Mempunyai potensi sumber air permukaan dan atau air tanah yang dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal yang diusahakan sesuai jenis komoditas.
  2. Diprioritaskan pada lokasi kawasan pertanian yang sering mengalami kendala/kekurangan air irigasi terutama pada musim kemarau

 

Agar air tanah dapat dimanfaatkan untuk air irigasi, maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah, misalnya dengan pompa. Komponen yang diperlukan agar air tanah tersedia untuk irigasi:

1. Sumur

Sumur dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) dan sumur bor/sumur pantek (cara pengembangannya dengan dibor). Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan dengan kedalaman air tanah (± 30 meter).

 

2. Pompa Air

Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah pada umumnya pompa jenis sentrifugal. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel/ bensin, tenaga listrik, tenaga angin (kincir angin) atau tenaga surya. Pompa air tanah dapat bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan). 

Jika menggunakan tenaga surya, komponen instalasi pembangkit tenaga surya terdiri dari panel surya, converter, kontrol panel, accu, pompa submersible atau sentrifugal.

 

Gambar . Pembuatan Sumur Resapan (www.housing-estate.com)

 

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)