Serangga ini bersifat kosmopolitan. Di Asia dilaporkan penyebarannya terutama di Jepang, Taiwan dan Asia Tenggara. Selain pada tanaman kedelai ulat grayak juga dapat hidup pada berbagai jenis tanaman, seperti kacang tanah, kacang hijau, tembakau, lombok, bawang merah dan ubijlar.

Bioekologi

Imago berwarna keabu-abuan. Imago betina dan jantan mempunyai pola warna sayap depan yang berbeda.

Imago betina meletakkan telur secara berkelompok pada permukaan daun bagian bawah atau bagian atas atau permukaan kotiledon bagian bawah sekitar 30 – 700 butir per kelompok. Kelompok telur berbentuk bundar, ditutupi bulu halus berwarna merah sawo. Seekor imago betina mampu bertelur antara 4 – 8 kelompok atau kurang lebih 2.000 butir telur.

Larva muda berwarna kehijauan dengan bintik hitam arah lateral pada setiap ruas abdomen, tidak berambut. Larva tua berwarna abu-abu gelap atau coklat dengan lima garis memanjang sepanjang badan berwarna kuning pucat atau kehijauan. Larva dan imago ulat grayak.

Setelah 3 hari larva akan menetas dan untuk sementara tinggal di sekitar kulit telur dan makan jaringan daun bagian bawah. Setelah jaringan daun tersebut habis, larva akan berpindah ke daun-daun lainnya dengan bantuan angin dan benang pintal. Larva yang lebih tua pada siang hari bersembunyi dalam celah tanah, dan menjelang malam aktif kembali mencari makan. Stadium larva rata-rata 20 hari.

Menjelang pra pupa larva masuk ke dalam tanah untuk membuat kokon. Pupa berbentuk bulat panjang berwarna coklat. Pupa terbentuk dalam tanah, lama stadium pupa rata-rata 9 hari. Total siklus hidup ulat grayak sekitar 32 hari.

Gejala Serangan

Kerusakan daun oleh larva muda (instar 1 – 2) ditandai dengan warna keputih-putihan. Hal ini karena jaringan daun bagian bawah habis dimakan dan yang tertinggal hanya epidermis bagian atas terlihat seperti  pada Gambar 11. Larva dewasa (instar 3 –5 ) dapat memakan tulang daun yang muda, sedangkan pada daun tua, tulang-tulang daunnya akan tersisa. Selain merusak daun, larva juga memakan polong yang masih hijau. Larva dalam jumlah yang besar dapat merusak seluruh tanaman.

Ambang pengendalian

-              2 ekor larva instar 3/rumpun, atau 2 kelompok telur/100 rumpun pada umur 11-30 hst

-              3 ekor larva instar 3/rumpun, atau 4 kelompok telur/100 rumpun pada umur 31-51 hst

-              6 ekor larva instar 3/rumpun, atau 7 kelompok telur/100 rumpun pada umur 31-70 hst

-              intensitas kerusakan ≥ 12,5 %.

Pengendalian

-              Tanam serempak dalam satu hamparan luas dengan selisih waktu relatif pendek (kurang dari 10 ha).

-              Pemusnahan kelompok telur dan larva

-              Penggunaan Sl-NPV (Spodoptera litura  Nuclear Polyhydrosis Virus). Sl-NPV adalah patogen pada ulat grayak. Virus tersebut menginfeksi ulat grayak sehingga larva mati. Patogen dapat diproduksi secara sederhana yaitu dengan menggerus ulat mati yang terinfeksi Sl-NPV kemudian diencerkan dengan air. Kebutuhan untuk tiap hektar adalah 25 ekor larva instar 4-6 terserang virus dilarutkan dalam 500 l air/ha.

-              Penggunaan feromoid seks 6 perangkap per hektar.

-              Penggunaan serbuk biji mimba 10/g/l

-              Pengumpulan dan pemusnahan larva instar 4-6.

-              Penanaman tanaman perangkap (jagung)

-              Penggunaan insektisida anjuran, terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian jika mencapai ambang pengendalian.

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)