Gejala Serangan

Penggerek batang padi (PBP) merupakan hama utama dan luas serangannya menempati peringkat pertama pada  sentra-sentra produksi padi. PBP menyerang semua stadia pertumbuhan tanaman padi. Serangan PBP pada stadia pertumbuhan vegetatif tanaman menyebabkan kematian anakan dinamakan gejala Sundep dan serangan PBP pada stadia generatif menyebabkan malai tampak putih dan gabahnya hampa  dinamakan gejala beluk. PBP menyerang tanaman padi dengan cara masuk dan menggerek batang tanaman padi sehingga menyebabkan kematian anakan dan malai karena terhentinya distribusi zat hara ke malai. Gambar telur, larva/ulat, pupa dan ngengat dewasa serta gejala serangan PBP sebagai berikut:

                  

 Bioekologi

Penggerek Batang Padi di Indonesia terdapat 6 spesies, yaitu : PBP kuning (Scirpophaga incertulas W.), PBP putih Scirpophaga innotata W.), PBP bergaris Chilo suppressalis W.), PBP kepala hitam Chilo polychrysus M.), PBP berkilat Chilo auricilius D.) dan PBP merah jambu Sesamia inferens W.), namun dari enam spesies PBP tersebut hanya empat spesies yang ditemukan banyak menyerang pertanaman padi, yaitu PBP kuning, PBP putih, PBP bergaris, dan PBP merah jambu. Bioekologi masing-masing spesies PBP berbeda, namun semua PBP mempunyai kesamaan dalam menyerang dan kerusakan yang ditimbulkannya.  Berikut contoh gambar-gambar PBP:

PBP Bergaris (Chilo supressalis). Sumber gambar : bargozideha.com

PBP Kuning (Scirpophaga incertulans). Sumber gambar : rkmp.co.in

PBP Putih (Scirpophaga innonata). Sumber gambar : insecta.pro

PBP Merah Jambu (Sesamia inferens). Sumber gambar : brain.neuro.inf

 

Ciri dan Karakteristik PBP

 

Ambang Ekonomi

Ambang ekonomi pengendalian ditetapkan berdasarkan kerusakan pada stadia vegetatif (serangan sundep) 6% dan generatif (serangan beluk) 10%.

 

Cara Pengendalian

Pemanfaatan musuh alami, sebagai contoh pelepasan parasitoid telur  dari famili  Trichogrammatidae,seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman

Pengendalian dengan mengguanakan insektisida kimia harus dilakuakan secara hati=hati dan bijaksana serta rasional. Insektisida yang dapat digunakan yang bekerja secara sistemik seperti insektisida berbahan aktif karbofuran.

 

Pengelolaan Agroekosistem

            Pengelolaan agroekosistem merupakan pelaksanaan pengendalian preemtif yang dimulai dari pengolahan lahan sampai panen, meliputi pengolahan lahan yang baik, pemilihan benih sehat, pengaturan waktu/pola tanam, pengaturan pengairan, pemupukan berimbang, serta melakukan modifikasi habitat untuk menciptakan habitat yang tidak sesuai bagi perkembangan hidup PBP, namun mampu mendukung dan memperkuat kehidupan dan perkembangan musuh alami (MA) PBP, sebagai agens pengendali alaminya, seperti peminimalan penggunaan pestisida, peningkatan input bahan organik (pupuk) dan penambahan tanaman berbunga sebagi refugia bagi MA

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)