PENYAKIT TUNGRO

 

Vektor/Pembawa dan Penular : Nephotettix nigropictus dan N. virescens.

Gejala Serangan

Tanaman yang terserang tungro menjadi kerdil, terjadi perubahan warna daun menjadi oranye atau kuning terang sampai kuning kecoklatan. Gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah yang kemudian berkembang pada daun yang lebih atas. Tanaman kerdil, jumlah anakan berkurang dan jumlah bulir berkurang. Terjadi pemendekan buku-buku pada batang padi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan daun seperti kipas (gejala kipas). Daun yang muda seringkali berbecak atau mempunyai warna hijau pucat hingga bergaris-garis putih sejajar dengan tulang daun dengan panjang yang berbeda, daun yang menguning bervariasi selama periode pertumbuhan tanaman.

Pada tanaman yang tua, warna daun kembali berwarna hijau, meskipun demikian gejala khas perubahan klorotik akan muncul pada singgang. Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro, apabila populasi WDH tinggi, maka penyebaran penyakit akan cepat terutama pada tanaman muda. Sebaran penyakit dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan serangan penyakit tungro dengan gangguan fisiologis.

Tanaman yang terinfeksi biasanya hidup hingga fase pemasakan. Pembungaan yang terlambat bisa menyebabkan tertundanya panen.

 

Gambar gejala serangan penyakit tungro

 

Cara Pengendalian

  1. Hamparan yang Tanam Serentak

Hamparan sawah disebut tanam serentak apabila minimal pada luasan 20 ha dijumpai stadia tanaman yang hampir seragam.

Preemtif/Sebelum Tanam

  1. Eradikasi sumber inokulum penyakit. Diupayakan 5 hari sebelum semai lahan sudah terbebas dari sumber inokulum. Tanah segera diolah untuk mencegah adanya sumber inokulum, yaitu dari singgang tanaman terserang atau rontokan gabah yang tumbuh. Bila mungkin tanam padi dengan cara tabur benih langsung (tabela) menggunakan alat tabela setelah petakan dibersihkan dan diratakan.
  2. Varietas tahan. Varietas tahan virus tungro yang tersedia saat ini yaitu IR42, IR66, Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Celebes, Kalimas, dan Bondojudo.
  3. Waktu Tanam Yang Tepat. Tanaman padi peka terhadap infeksi tungro sampai umur 45 hst. Usahakan menghindari infeksi pada periode tersebut dengan mengatur waktu tanam. Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan mengetahui fluktuasi/turun naiknya populasi bulanan kerapatan populasi wereng hijau dan intensitas tungro. Atur waktu tanam agar saat terjadi puncak kerapatan populasi dan intensitas tungro, tanaman telah berumur lebih dari 45 hst. Waktu tanam tepat untuk pantai Barat Sulawesi Selatan tidak banyak berubah, sedangkan untuk pantai Timur mengalami perubahan maju satu bulan. Daerah tanam serentak lainnya perlu dipelajari waktu tanam tepat untuk tanam padi, karena pola fluktuasi/turun naiknya populasi kerapatan wereng hijau dan intensitas tungro sangat bersifat spesifik lokasi.
  4. Konservasi (melestarikan) musuh alami (pemangsa) dan pengendalian hayati. Pematang dibersihkan setelah tanaman umur 30 hst bila tidak terdapat rerumputan inang, atau pematang yang telah dibersihkan diberi mulsa sebagai tempat berlindung musuh alami, terutama pemangsa. Pengendalian tungro dengan insektisida nabati seperti Sambiloto atau Mimba dan patogen serangga seperti jamur Metarhizium harus dilakukan secara dini sejak tanaman umur 14 hst dan diulang secara periodik minimal seminggu sekali sampai tanaman padi melewati fase rentan infeksi (28-35 hst), sebab secara alamiah umumnya perkembangan musuh alami terlambat dibanding wereng hijau.
  5. Penanaman refugia (tanaman berbunga). Refugia sebagai tempat hidup musuh alami dapat ditanam di pematang atau pinggir jalan usaha tani.
  6. Monitoring di persemaian. Pemantauan wereng hijau di persemaian dilakukan dengan jaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi kerapatan populasi wereng hijau. Disamping itu juga perlu dilakukan uji iodium untuk mengetahui intensitas tungro pada 20 daun padi 15 hari setelah semai (hss). Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan daun terinfeksi ≥ 75 %, maka pertanaman terancam tungro, lakukan pengendalian dengan insektisida kimiawi untuk menekan kerapatan populasi imago/dewasa migran (populasi yang berpindah) yang membawa virus.
  7. Tanam sistem legowo. Penanaman dengan cara legowo dua baris atau empat baris dapat menekan pemencaran wereng hijau sehingga mengurangi penularan tungro.

 

Responsif/Setelah Tanam

  1. Monitoring tanaman muda. Amati tanaman bergejala tungro. Eradikasi selektif (sebagian) tanaman bergejala dan diikuti dengan aplikasi insektisida kimiawi apabila :
  1. Pengendalian dengan insektisida kimiawi. Apabila berdasarkan hasil monitoring saat tanaman berumur hingga 3 mst diketahui tanaman terancam, vektor perlu segera dikendalikan dengan insektisida kimiawi yang telah terdaftar dan diizinkan yang berbahan aktif imidakloprid, tiametoksan, etofenproks, BPMC, buprofezin, MIPC atau karbofuran.
  2. Mengurangi pemencaran vektor. Kondisi air sawah tetap dijaga pada kapasitas lapang (macak-macak), sebab sawah yang kering merangsang pemencaran wereng hijau, sehingga memperluas penyebaran tungro.
  3. Perbaikan pola tanam. Pada jangka menengah dan jangka panjang usahakan menanam palawija diantara musim tanam padi atau tanam palawija di pematang sebagai tempat berlindung musuh alami.

 

  1. Hamparan Tanam Tidak Serentak

Hamparan sawah disebut tidak tanam serentak apabila dalam satu hamparan dijumpai berbagai stadia tanaman. Sumber inokulum adalah tanaman  umur 35-63 hst, singgang 28 hari setelah panen, persemaian dan juga rontokan gabah yang tumbuh. Migrasi berlangsung terus menerus dari tanaman fase generatif ke tanaman fase vegetatif. Sebagian kecil migrasi terjadi dari galengan yang ditumbuhi rerumputan dan terdapat spesies wereng hijau N. nigropictus.

Preemtif/Sebelum Tanam

  1. Tanam varietas tahan
  2. Tanam sistem legowo
  3. Menanam tanaman refugia sebagai tempat hidup musuh alami.

Responsif/Setelah Tanam

  1. Monitoring ancaman di persemaian. Pemantauan wereng hijau di persemaian dilakukan dengan jaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi kerapatan populasi wereng hijau. Disamping itu juga perlu dilakukan uji iodium untuk mengetahui intensitas tungro pada 20 daun padi 15 hari setelah semai (hss). Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan daun terinfeksi ≥ 75 %, maka pertanaman terancam tungro, lakukan pengendalian dengan insektisida kimiawi untuk menekan kerapatan populasi imago migran infektif.

 

  1. Pengendalian hayati. Pengendalian tungro dengan insektisida nabati seperti Sambilata atau Mimba dan patogen serangga seperti Metarhizium harus dilakukan secara dini sejak tanaman umur 14 hst dan diulang secara periodik minimal seminggu sekali sampai tanaman padi melewati fase rentan infeksi (28-35 hst), sebab secara alamiah umumnya perkembangan musuh alami terlambat dibanding wereng hijau.
  2. Monitoring ancaman saat tanaman muda. Amati tanaman bergejala tungro. Eradikasi selektif tanaman bergejala dan diikuti dengan aplikasi insektisida kimiawi apabila :

saat tanaman berumur 21 hst satu rumpun per 1.000 rumpun tanaman bergejala tungro (intensitas 0,1 %).

  1. Pengendalian kuratif dengan insektisida kimiawi. Apabila berdasarkan hasil monitoring saat tanaman muda sampai tanaman 21 mst diketahui tanaman terancam, vektor segera dikendalikan dengan insektisida kimiawi yang mempunyai kemampuan mengendalikan cepat seperti insektisida dengan bahan aktif imidakloprid, tiametoksan, etofenproks, BPMC, buprofezin, MIPC atau karbofuran.
  2. Mengurangi pemencaran vektor. Kondisi air sawah tetap dijaga pada kapasitas lapang (macak-macak), sebab sawah yang kering merangsang pemencaran wereng hijau, sehingga memperluas penyebaran tungro
  3. Perbaikan pola tanam. Pada jangka menengah dan jangka panjang usahakan menanam palawija diantara musim tanam padi atau tanam palawija di pematang sebagai tempat berlindung musuh alami

 

 

© 2017 - Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Jl. AUP Pasar Minggu Kotak Pos 7236/Jks PSM . Jakarta Selatan 12520 Phone: 021-7805652. Fax: 021-7805652
(Jam 09.00 s.d 15.00 WIB setiap hari kerja)